SADIS, SATU DARI TIGA MAHASISWA UII YANG TEWAS, SYAIT ASYAM TULANGNYA HANCUR DIPUKUL ROTAN

Portalberita212.com- Tiga (berita sebelumnya disebutkan dua) orang mahasiswa UII (Universitas Islam Indonesia) tewas usai mengikuti pendidikan dasar atau The Great Camping (TGC), yang digelar Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UII di lereng selatan, Tawangmangu, Jawa Tengah yang digelar pada 13 hingga 20 Januari 2017. Kabar terbaru cukup mengejutkan, salah satu korban ternyata mengalami patah tulang di sekujur tubuhnya.

Untuk diketahui terlebih dahulu, ketiga mahasiswa yang meninggal itu adalah Muhammad Fadhli (20), Syait Asyam (20) dan Ilham Nurfadmi Listia Adi (20). Fadhli, mahasiswa Teknik Elektro UII angkatan 2015, asal Batam tewas dalam perjalanan menuju RSUD Karanganyar, Jumat (20/1). Asyam mahasiswa Teknik Industri angkatan 2015 asal Yogyakarta tewas di RS Bethesda, Yogyakarta pada Sabtu (21/1). Korban terakhir adalah Ilham mahasiswa Hukum Internasional angkatan 2015 yang tewas di RS Bethesda, Senin (23/1).

Nah, kabar terbaru terkait korban Syait Asyam cukup mengejutkan. Berdasarkan laporan medis dari Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, kedua mahasiswa UII (Syait Asyam dan Ilham) mengembuskan napas terakhir setelah mendapat perawatan RS tersebut usai mengikuti diksar mapala UII yang dinamai The Great Camping.

Berdasarkan catatan dari RS Bethesda, Asyam mahasiswa jurusan Teknik Industri UII angkatan 2015 ini mengalami patah tulang di sekujur tubuhnya seperti tangan, kaki, pantat dan punggung yang dalam istilah medis dinamakan Multiple Trauma.

“Korban datang ke Bethesda pada Sabtu 21 Januari 2017. Dia diantar oleh seorang temannya ke IGD sekitar pukul 05.46 WIB. Korban kondisinya saat itu sesak napas dan susah berkomunikasi,” kata Kepala Bidang Humas dan Marketing RS Bethesda, Nur Sukawati, Selasa (24/01/2017).

Nur Sukawati sebagaimana dilansir Merdeka menambahkan, Asyam juga mengalami diare dan gagal pernapasan. Napas Asyam hanya 40 napas permenit.

“Korban akhirnya meninggal dunia pada Sabtu 21 Januari 2017 pukul 14.45 WIB. Korban meninggal karena pnemunia atau panas di paru-paru,” ungkap Nur Sukawati.

Sebelumnya, saat ditemui di rumah duka pada Senin (23/01/2017), ibunda Asyam, Sri Handayani mengatakan, ketika menemui Asyam di RS Bethesda, kondisinya sudah penuh luka. Sri sempat berkomunikasi sebentar dengan Asyam.

“Anak saya sempat cerita dianiaya dan sempat dipukul punggungnya pakai rotan sebanyak 10 kali,” terang Sri.

Sri beserta suaminya, Abdullah Arbi melaporkan kasus meninggalnya Asyam ke Polres Karanganyar, Jawa Tengah. Dalam laporannya, pihak keluarga Asyam juga mencantumkan hasil autopsi yang dilakukan oleh RSUP Dr Sardjito.

Di mata keluarga, Asyam merupakan anak yang berprestasi. Saat bersekolah di SMA Kesatuan Bangsa Boarding School (KBBS) Yogyakarta, Asyam pernah meraih dua medali emas bidang Kimia dalam ajang International Science Project Olympiad (ISPrO), dan Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) pada 2014 di Jakarta.

“Asyam pernah juara dan medali emas bidang kimia di ajang International Environment Sustainability Project Olympiad (INESPO) 2014 di Belanda. Penelitiannya saat itu soal lingkungan di lautan. Anak saya bertemu langsung dengan Meteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi,” cerita Sri.

Berbekal prestasinya itu, sambung Sri, Asyam pernah diundang untuk menemui Presiden Joko Widodo. “Setelah lulus UII, anak saya ingin melanjutkan kuliah ke London, Inggris,” kenang Sri.

Terpisah, Rektor UII Harsoyo menjelaskan pihaknya masih mendalami peristiwa tewasnya dua mahasiswa itu dengan membentuk tim investigasi. Tim investigasi tersebut terdiri dari pimpinan UII, bidang kemahasiswaan, bidang medis dan forensik, psikologi serta bidang hukum.

“Tim ini sedang menelusuri serta mencari fakta dan informasi yang lengkap terkait wafatnya Muhammad Fadhli dan Syaits Asyam,” ujar Harsoyo.

Harsoyo mengungkapkan bahwa UII akan menindak tegas pihak yang terlibat apabila ditemukan adanya penyimpangan terhadap kematian kedua mahasiswa UII tersebut.

“Saat ini semua kegiatan yang bersifat outdoor di UII kami tangguhkan sementara. Nantinya hasil temuan tim investigasi juga akan kami gunakan untuk mengevaluasi kegiatan-kegiatan mahasiswa yang lainnya,” ungkap Harsoyo.

Achiel Suyanto, salah seorang tim investigasi UII yang juga merupakan mantan Ketua Mapala UII mengatakan acara tersebut sudah ada sejak tahun 1977. Menurutnya tidak pernah ada kekerasan dalam acara tersebut.

“Dalam kurikulum Mapala UII tidak ada kekerasan. Kalaupun ada hukuman paling hanya disuruh lari atau push up saja. Tidak diperbolehkan ada kekerasan,” tegas Achiel.

Achiel menerangkan bahwa saat ini tim investigasi belum bisa membeberkan hasil temuannya. Pasalnya, hari ini tim baru meminta keterangan panitia dan pengurus Mapala UII.

“Tunggu beberapa hari ke depan. Pasti akan kita beritahukan hasil investigasinya apa. Mau ada kekerasan atau tidak akan tetap kita sampaikan,” papar Achiel.

Achiel juga menuturkan bahwa pihaknya akan menghormati apabila keluarga mahasiswa yang meninggal saat mengikuti Diksar Mapala UII mengambil langkah hukum. Baginya langkah hukum itu adalah hak setiap warga negara.

“Pengurus Mapala UII dan panitia acara kemarin sudah dimintai keterangan oleh pihak Kepolisian. Silakan saja, biarkan proses hukum tetap jalan dan kami pun juga akan tetap melakukan investigasi. Apapun hasilnya nanti akan kita sampaikan,” pungkas Achiel.

Kegiatan Diksar Mapala UII di Lereng Selatan Gunung Lawu merupakan acara resmi yang diikuti sedikitnya 37 peserta.

Pihak UII mengetahui dan mengizinkan penyelenggaraan acara yang dinamai The Great Camping (TGC) yang diadakan dari tanggal 13 hingga 20 Januari 2017

 

Facebook Comments
Tweet

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*