Inilah Profil KH Ma’sum Hasan Imam Besar FPI Jawa Barat

Portalberita212.com - Sosok pribadi Imam Besar Front Pembela Islam Jawa Barat KH Ma’sum Hasan adalah sosok pemberani namun tetap lembut dalam urusan berdakwah. KH Ma’sum adalah ulama dari Ciamis atau biasa dipanggil ajengan Ma’sum ini merupakan Ketua DPC FPI Kabupaten Ciamis. Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda Utsmaniyah Cikole, Desa Cijulang Kecamatan Cihaurbeuti Ciamis ini dikenal sangat istiqomah menegakan amal makruf nahyi munkar di Tatar Galuh.

Sebenarnya keistiqomahan KH Ma’sum Hasan ini mewarisi dari KH Abdurrahman Syadzili (almarhum) pendiri Ponpes Miftahul Huda Utsmaniyah. Semasa hidupnya KH Abd Syadzili yang biasa disapa ajengan Oman dikenal sangat berani menentang pemerintah orde baru.

Saat rezim orde baru, KH Oman memilih jalan lurus, rela berbeda halauan politik dengan sebagian besar ulama ketika itu yang takluk oleh kekuasaan uang orde baru. Jika sebagian besar para ajengan Ciamis memilih afiliasi politik dengan Golkar, tapi KH Oman justru tetap sebagai ulama PPP.

Masa orde baru selalu diingat ketika ulama atau ajengan yang bukan Golkar akan disorot. Ruang geraknya selalu diawasi. Bahkan pernah suatu hari ada kisah lampu penerangan jalan umum (PJU) di kawasan Pesantren dimatikan. Usut punya usut ternyata hal tersebut perintah dari Camat Cihaurbeuti, karena saat itu camat orde baru ini memerintahkan agar PJU dimatikan karena ajengan Oman tak mau masuk Golkar. Kisah ini banyak terjadi di sejumlah Pesantren di Indonesia di masa orde baru dimana ulamanya menolak bergabung dengan Golkar.

Sepeninggal Ajengan Oman, ciri khas Ponpes Miftahul Huda Utsmaniyah tidak berubah, tegas menegakan amar makruf nahyi munkar dan tak mau kompromi dengan pemerintah jika aturan pemerintah itu dinilai melanggar aturan. Hebatnya lagi, ponpes ini juga tak masuk jajaran pesantren yang sering menerima bantuan APBD. Mungkin karena lantang dan konsisten menyerukan amar makruf nahyi munkar.

Visi dan Misi ajengan Oman kemudian dilanjutkan oleh KH Ma’sum Hasan, beliau adalah mantu ajengan Oman. Estafet kepemimpinan Pesantren Miftahul Huda Utsmaniyah dianggap sangat cocok jika dilanjutkan oleh KH Ma’sum. Hebatnya meskipun ajengan Oman sendiri punya putra laki-laki untuk meneruskan kepemimpinan pesantren. Di bawah kepemimpinan KH Ma’sum, Ponpes Miftahul Huda Ustmaniyah ternyata makin berkembang. Bahkan jumlah santrinya bertambah. Begitu juga tradisi pengajian bulanan atau pasaran pesertanya makin hari semakin bertambah banyak.

Sejumlah kegiatan tahunan diselenggarakan diantaranya kuliah kilat atau yang lebih dikenal dengan sebutan pasaran itu adalah ngaji kitab kuning seperti kitab Fatul Mu’in 4 Juz dan Fathul Qorib/Bajuri 2 juz. Keduanya merupakan kitab fiqh klasik. Sampai saat ini pesantren kilat ini sudah masuk periode 48 tahun. Kegiatan pesantren kilat ini dilaksanakan pada bulan yaitu Rajab dan Rowah. Pesertanya adalah santri datang dari berbagai penjuru nusantara.

Dibuka untuk umum, santri tidak dibatasi status maupun usia. Baik untuk santri yang menetap ataupun para pendatang atau mufasirin. Kegiatan tahunan ini dilaksanakan dua bulan pada setiap tahunnya. Selama kurang lebih enam puluh hari para peserta yang terdiri dari mukimin-mukimat serta mufasirin/mufasirat itu akan bersama-sama mengkaji dua kitab tersebut.

KH Ma’sum Hasan Aktif di FPI Ciamis

KH Ma’sum Hasan juga sangat aktif di organisasi Front Pembela Islam (FPI) Ciamis. Sejumlah kegiatan FPI selalu dilaksanakan di Ponpes Miftahul Huda Utsmaniyah. Beberapa kali Imam Besar FPI Habib Rizieq Sihab pun kerap datang berceramah ke pesantren ini. Kiprah KH Ma’sum di FPI memang tak diragukan lagi, bersama Polres Ciamis dia selalu memimpin razia miras dan penyakit masyarakat lainnya. Bahkan ketika kasus mantan Bupati Ciamis Engkon Komara mencuat karena tertangkap basah karaokean bersama mahasiswi Universitas Galuh, KH Ma’sum lah yang menyerukan umat Islam Ciamis untuk turun ke jalan memprotes kelakuan bejat Bupati tersebut.

Bersama KH Nonop Hanapi, Pimpinan Ponpes Miftahul Huda II Bayasari Kecamatan Jatinegara, KH Ma’sum adalah inisiator aksi jalan kaki atau longmarch ke Jakarta untuk mengikuti aksi 212. Beliau mengajak santrinya berjuang dengan berjalan kaki ke Jakarta karena kendaraan bus dan angkutan umum lainnya dilarang menyewakan busnya untuk santri yang akan ikut aksi bela Islam.

“Saya ingin menegakan amar makruf nahyi munkar, apapun resikonya. Saya tidak takut kepada manusia yang saya takuti hanya Allah SWT,” katanya dalam sebuah kesempatan.

140 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Facebook Comments
Tweet

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*